Ruh, Jiwa dan Nyawa
Jika melihat hal-hal yang bisa dilakukan komputer, banyak tanya menggoda tentang bagaimana dia bisa melakukan itu semua. Padahal membedah sebuah komputer, kita hanya akan menemukan piranti elektronik dengan jaringan kabel yag terhubung satu sama lain. Kita akan menemukan bahan-bahan yang terbuat dari logam dan plastic. Bisakah logam dan plastic secerdas itu?
Bila diteliti lebih mendalam, ternyata ia mempunyai sebuah prosesor. Benda bernama microchip itulah yang mengorganisasi semua fungsi komponen secara integral hingga seluruh piranti komputer berada di bawah kendalinya.
Lebih jauh, ia terbuat dari transistor mini dan sirkuit lainnya di atas sebuah sirkuit terintegrasi semikonduktor. Tapi benarkah logam bisa secerdas itu?
Jika pertanyaan ini dibawa pada seorang programmer, itu hanya akan membuatnya tertawa. Sebab komputer tidak lain dijalankan oleh sebuah bahasa program. Mereka melakukan jutaan perintah sederhana yang diatur oleh orang pandai, "programmer".
Ruh
Catatan: Ruh berdiri sendiri, sebuah zat yang ditiupkan pada tubuh manusia. Ruh mempunyai kesatuan sendiri dan tubuh mempunyai kesatuan sendiri.
Jiwa
Nyawa
Penalaranku:
Ruh + Jasad = Nyawa + Jiwa
Nyawa melahirkan gerak dan kekuatan: jantung berdenyut, hidung bernafas, darah mengalir, dst. Dan melahirkan nafsu: Keinginan, amarah, kebencian dan cinta.
Jiwa melahirkan : Pengetahuan, pengertian.
Sewaktu jasad ditiupkan ruh, bersenyawalah keduanya sehingga menumbuhkan jiwa. Jika senyawa ini diceraikan kembali, terpisahlah jasad dan ruh untuk masing-masing kembali ke asalnya.
Saat ruh berpisah dari tubuh, secara fisik manusa akan mengalami apa yang oleh dokter disebut disfungsi organ. Ditandai dengan jantung berhenti berdetak, nafas terputus.
Jasad karena berasal dari ekstrak alam maka kembali ke materi yang membentuknya. Ruh-Nya kembali ke sisi-Nya. Jiwa kembali kemana?
Jiwa yang merupakan pengalaman hidup, pada akhirnya tergantung pengalaman itu itu sendiri apakah akan membuahkan kesenangan atau sesalan.
Jiwa adalah sebuah konsekuensi. Konsekuensi merupakan resiko tanggunga jawab. Konsekuensi mengandung dampak. Bisa baik atau buruk. Dampak menimbulkan akibat. Hukuman atau penghargaan.
Analogi paling dekat terhadap maha karya bernama manusia ini adalah komputer.
Adalah semua bagian fisik manusia dan dibedakan dengan data yang berada di dalamnya atau yang beroperasi di dalamnya, dan dibedakan dengan perangkat lunak (software) yang menyediakan instruksi untuk perangkat keras dalam menyelesaikan tugasnya. Prosesor atau CPU nya adalah otak sebagai unit yang mengelola data. Dan indra sebagai media yang menginput data dan mengekspresikan hasil pemerosesan.
Batasan antara perangkat keras dan perangkat lunak akan sedikit buram kalau kita berbicara mengenai firmware, karena firmware ini adalah perangkat lunak yang "dibuat" ke dalam perangkat keras.
Software (Jiwa)
Firmware adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada rutin-rutin perangkat lunakyang disimpan di dalam Read-only Memory (ROM) alias memori hanya baca.
Tidak seperti Random Access Memory (RAM), ROM tidak akan dapat berubah meski tidak dialiri listrik. Rutin-rutin yang mampu menyalakan komputer (startup) serta instruksi input/output dasar (semacam BIOS atau sistem operasi embedded) disimpan di dalam firmware.
Analogi ini sangat tepat untuk nyawa karena dengan demikian pada hari kebangkitan, menghimpun kembali seorang manusia utuh seperti sebelumnya menjadi pekerjaan mudah. Tinggal dialirkan arus listrik (ruh) proses booting tinggal merestart kembali program seorang manusia yang sama persis.
Jiwa di Alam Kubur
Didalam sebuah artikel dijelaskan bahawa jiwa mampu menyimpan semua memori dari semenjak lahir sampai jasad meninggal. Ibarat sebuah server yang besar, mampu menyimpan data yang besar pula. Tidak ada yang luput dari server ini, semua tersimpan dengan baik. Baik itu data kejahatan mahupun data kebaikan.
Berbeda dengan memori otak yang sangatlah terbatas. Misalnya kita disuruh untuk menghafal jenis kereta dan warnanya yang kita jumpai sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke pejabat. Sudah tentu terbatas sekali yang dapat kita hafalkan.
Ruh adalah cahaya-Nya. Ketika nyawa dicabut, ruh kembali kepada Tuhan, asalnya. Raga kembali kepada asalnya yakni ekstrak alam. Jiwa yang merupakan pengalaman hidup, pada akhirnya adalah membuahkan kesenangan atau sesalan. Tempatnya adalah surga atau neraka. Sebelum itu, tempatnya di alam kubur. Ia telah terpisah dengan ruhnya. Yang tersisa tinggal jiwa.
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir". (Az-Zumar:42)
Pengibaratan orang mati dalam kubur itu seperti orang yang masuk penjara. Dalam penjara, seseorang dipisahkan dari kehidupannya. Dari anak isterinya, dari harta bendanya, dari pekerjaannya, pangkat dan kedudukannya, dari keluarga dan kerabatnya.
Semua tidak lagi dapat dijangkau kehendak dan kekuasaannya, sudah bukan urusannya lagi. Ia bisa saja kasihan pada anak isterinya, siapa yang menafkahi mereka sehari-hari. Bagaimana massa depan anaknya, siapa yang menjaga anak isterinya.
Ia masih bisa bertemu mereka, tapi ia tidak bisa lagi menjangkaunya. Dunianya sudah terpisah oleh tembok dan jeruji besi. Kekuasaannya terhadap urusan dunianya sudah dicabut.
Bila mengenang seluruh ingatannya, ia mungkin mengenang saat membantah ibunya, berbuat aniaya terhadap teman-temannya, perbuatan memalukan serta tidak terpuji lainnya. Dan ia menyesal mengapa pernah melakukan hal sebodoh itu. Perasaannya terhantui karenanya. Sebab itu batinnya tersiksa.
Ia menghayal andaikata keluar nanti, ia akan melakukan ini, itu, dan segala pebuatan baik-baik. Dan ia mencatat dalam hatinya. Melihat dirinya, kenapa waktu itu ia mencuri. Atau jika bukan gara-gara-gara si anu, dirinya tidak seperti hari ini. "Kalau bebas, saya tidak akan bergaul dengan si anu lagi,"teguhnya dalam hati.
Lintasan-lintasan perasaan seperti itu, lebih pahit tentu saja bila ternyata hukuman yang divonis untuknya adalah hukuman mati. Dimana ia tidak punya kesempatan lagi untuk menjalankan niatan-niatan baik yang sudah dicatat dalam hatinya. Sejuta rencana kebaikan saat itu tiada berguna lagi. Yang ada hanya sejuta sesalan.***
Bila diteliti lebih mendalam, ternyata ia mempunyai sebuah prosesor. Benda bernama microchip itulah yang mengorganisasi semua fungsi komponen secara integral hingga seluruh piranti komputer berada di bawah kendalinya.
Lebih jauh, ia terbuat dari transistor mini dan sirkuit lainnya di atas sebuah sirkuit terintegrasi semikonduktor. Tapi benarkah logam bisa secerdas itu?
Jika pertanyaan ini dibawa pada seorang programmer, itu hanya akan membuatnya tertawa. Sebab komputer tidak lain dijalankan oleh sebuah bahasa program. Mereka melakukan jutaan perintah sederhana yang diatur oleh orang pandai, "programmer".
Ruh
- Ruh disebut dalam kisah saat kejadian adam:
- Pada kisah kelahiran manusia
- Dan tentang hari kiamat
Catatan: Ruh berdiri sendiri, sebuah zat yang ditiupkan pada tubuh manusia. Ruh mempunyai kesatuan sendiri dan tubuh mempunyai kesatuan sendiri.
Jiwa
- Asy-syams ayat 7: "dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)"
- Al-Fajr ayat 27 yaitu "Hai jiwa yang tenang".
- At-takawiir (menggulung) ayat 1-14: 1.
- Apabila matahari digulung,
- dan apabila bintang-bintang berjatuhan,
- dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
- dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan)
- dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
- dan apabila lautan dijadikan meluap
- dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)
- dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
- karena dosa apakah dia dibunuh,
- dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka,
- dan apabila langit dilenyapkan,
- dan apabila neraka Jahim dinyalakan,
- dan apabila syurga didekatkan,
- maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.
- At-taubah ayat 81: "Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui".
- Az-zumar ayat 70: "Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan".
- Al-a'raaf ayat 172: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
- Al-anfaal ayat 50: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri)". Catatan: Tuhan menyebut jiwa karena dalam konteks ini subyek belum mati tapi sementara dicabut nyawanya.
Nyawa
- As-sajadah ayat 11: "Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan".
- Al-waaqi'ah ayat 83: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
Penalaranku:
Ruh + Jasad = Nyawa + Jiwa
Nyawa melahirkan gerak dan kekuatan: jantung berdenyut, hidung bernafas, darah mengalir, dst. Dan melahirkan nafsu: Keinginan, amarah, kebencian dan cinta.
Jiwa melahirkan : Pengetahuan, pengertian.
Sewaktu jasad ditiupkan ruh, bersenyawalah keduanya sehingga menumbuhkan jiwa. Jika senyawa ini diceraikan kembali, terpisahlah jasad dan ruh untuk masing-masing kembali ke asalnya.
Saat ruh berpisah dari tubuh, secara fisik manusa akan mengalami apa yang oleh dokter disebut disfungsi organ. Ditandai dengan jantung berhenti berdetak, nafas terputus.
Jasad karena berasal dari ekstrak alam maka kembali ke materi yang membentuknya. Ruh-Nya kembali ke sisi-Nya. Jiwa kembali kemana?
Jiwa yang merupakan pengalaman hidup, pada akhirnya tergantung pengalaman itu itu sendiri apakah akan membuahkan kesenangan atau sesalan.
Jiwa adalah sebuah konsekuensi. Konsekuensi merupakan resiko tanggunga jawab. Konsekuensi mengandung dampak. Bisa baik atau buruk. Dampak menimbulkan akibat. Hukuman atau penghargaan.
Analogi paling dekat terhadap maha karya bernama manusia ini adalah komputer.
- Ruh = listrik
- Jasat = hardware
- Nyawa = firmware
- Jiwa = software
Adalah semua bagian fisik manusia dan dibedakan dengan data yang berada di dalamnya atau yang beroperasi di dalamnya, dan dibedakan dengan perangkat lunak (software) yang menyediakan instruksi untuk perangkat keras dalam menyelesaikan tugasnya. Prosesor atau CPU nya adalah otak sebagai unit yang mengelola data. Dan indra sebagai media yang menginput data dan mengekspresikan hasil pemerosesan.
Batasan antara perangkat keras dan perangkat lunak akan sedikit buram kalau kita berbicara mengenai firmware, karena firmware ini adalah perangkat lunak yang "dibuat" ke dalam perangkat keras.
Software (Jiwa)
- Sebuah sistem operasi. Yaitu program dasar pada manusia yang menghubungkan dengan jasad. Dalam dunia komputer sistem operasi yang biasa digunakan adalah Linux, Windows, dan Mac OS. Tugas sistem operasi termasuk (namun tidak hanya) mengatur eksekusi program, koordinasi input, output, pemrosesan, memori, serta instalasi software.
- Program. Merupakan aplikasi tambahan yang dipasang sesuai dengan sistem operasinya. Sebab itu orang bilang manusia yang baru lahir itu seperti kertas putih, yang siap diinstalkan program dan aplikasi apa saja kepadanya.
Firmware adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada rutin-rutin perangkat lunakyang disimpan di dalam Read-only Memory (ROM) alias memori hanya baca.
Tidak seperti Random Access Memory (RAM), ROM tidak akan dapat berubah meski tidak dialiri listrik. Rutin-rutin yang mampu menyalakan komputer (startup) serta instruksi input/output dasar (semacam BIOS atau sistem operasi embedded) disimpan di dalam firmware.
Analogi ini sangat tepat untuk nyawa karena dengan demikian pada hari kebangkitan, menghimpun kembali seorang manusia utuh seperti sebelumnya menjadi pekerjaan mudah. Tinggal dialirkan arus listrik (ruh) proses booting tinggal merestart kembali program seorang manusia yang sama persis.
Jiwa di Alam Kubur
Didalam sebuah artikel dijelaskan bahawa jiwa mampu menyimpan semua memori dari semenjak lahir sampai jasad meninggal. Ibarat sebuah server yang besar, mampu menyimpan data yang besar pula. Tidak ada yang luput dari server ini, semua tersimpan dengan baik. Baik itu data kejahatan mahupun data kebaikan.
Berbeda dengan memori otak yang sangatlah terbatas. Misalnya kita disuruh untuk menghafal jenis kereta dan warnanya yang kita jumpai sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke pejabat. Sudah tentu terbatas sekali yang dapat kita hafalkan.
Ruh adalah cahaya-Nya. Ketika nyawa dicabut, ruh kembali kepada Tuhan, asalnya. Raga kembali kepada asalnya yakni ekstrak alam. Jiwa yang merupakan pengalaman hidup, pada akhirnya adalah membuahkan kesenangan atau sesalan. Tempatnya adalah surga atau neraka. Sebelum itu, tempatnya di alam kubur. Ia telah terpisah dengan ruhnya. Yang tersisa tinggal jiwa.
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir". (Az-Zumar:42)
Pengibaratan orang mati dalam kubur itu seperti orang yang masuk penjara. Dalam penjara, seseorang dipisahkan dari kehidupannya. Dari anak isterinya, dari harta bendanya, dari pekerjaannya, pangkat dan kedudukannya, dari keluarga dan kerabatnya.
Semua tidak lagi dapat dijangkau kehendak dan kekuasaannya, sudah bukan urusannya lagi. Ia bisa saja kasihan pada anak isterinya, siapa yang menafkahi mereka sehari-hari. Bagaimana massa depan anaknya, siapa yang menjaga anak isterinya.
Ia masih bisa bertemu mereka, tapi ia tidak bisa lagi menjangkaunya. Dunianya sudah terpisah oleh tembok dan jeruji besi. Kekuasaannya terhadap urusan dunianya sudah dicabut.
Bila mengenang seluruh ingatannya, ia mungkin mengenang saat membantah ibunya, berbuat aniaya terhadap teman-temannya, perbuatan memalukan serta tidak terpuji lainnya. Dan ia menyesal mengapa pernah melakukan hal sebodoh itu. Perasaannya terhantui karenanya. Sebab itu batinnya tersiksa.
Ia menghayal andaikata keluar nanti, ia akan melakukan ini, itu, dan segala pebuatan baik-baik. Dan ia mencatat dalam hatinya. Melihat dirinya, kenapa waktu itu ia mencuri. Atau jika bukan gara-gara-gara si anu, dirinya tidak seperti hari ini. "Kalau bebas, saya tidak akan bergaul dengan si anu lagi,"teguhnya dalam hati.
Lintasan-lintasan perasaan seperti itu, lebih pahit tentu saja bila ternyata hukuman yang divonis untuknya adalah hukuman mati. Dimana ia tidak punya kesempatan lagi untuk menjalankan niatan-niatan baik yang sudah dicatat dalam hatinya. Sejuta rencana kebaikan saat itu tiada berguna lagi. Yang ada hanya sejuta sesalan.***
0 komentar:
Posting Komentar